(Cahaya lampu bohlam gantung berayun pelan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di wajah ketujuh orang itu. Debu beterbangan di sela cahaya redup. Tidak ada yang duduk dengan nyaman.)
Luthfi(Menatap lurus ke depan, suara rendah tapi beresonansi tajam) Kita gak bisa terus jadi alat. Udah waktunya kita naik. Bukan cuma minta jatah. Tapi tentuin arah angin.
Dimas(Menyilangkan tangan di dada, menatap Luthfi dengan dahi berkerut. Nada bicara skeptis.) Naik ke mana, Fi? Jangan ngomong kayak orang baru bangun tidur. Lu tau persis siapa yang kita lawan. Om Haris bukan preman pasar. Dia punya akses ke atas, ke petinggi. Kita cuma tujuh orang di gudang bocor. Gue realistis, bukan pengecut.
Reyhan(Memukul ringan tiang besi di sampingnya, rahang mengeras. Matanya memerah.) Gue capek, Mas! Capek nurut terus! Jari gue nyaris putus minggu lalu buat bersihin masalah mereka, pas uang turun… kita dapet recehan! Mereka pesta di hotel, kita kumpul di kandang tikus ini! Gak adil!
Restu(Tersenyum miring, mengeluarkan rokok dari balik telinga tapi tidak dinyalakan.) Tenang, Rey. Emosi itu bikin kita mati lebih cepat daripada peluru musuh. Atau lebih parah… bikin kita mati konyol. Duduk. Tarik napas. Pelan-pelan aja biar jantung lu gak meledak duluan sebelum perang dimulai.
Fahri(Berdiri menyender di sudut paling gelap. Suara memotong, dingin presisi.) Atau justru itu yang kita butuh. Chaos. Kekacauan. Dari situlah celah muncul. Kalau semua tenang dan teratur, kita gak akan pernah bisa masuk. Justru emosi Reyhan ini... ini bahan bakar. Kita perlu pembakaran.
(Suasana berubah tegang. Restu menghentikan gerakan jarinya di rokok. Dimas menatap Fahri dengan curiga.)
Agung(Dari sudut tergelap, duduk di atas peti kayu lapuk. Suara pelan, serak.) Setiap langkah ada harga. Jangan pura-pura gak tau. Harga buat naik... nyawa. Bisa nyawa kita, bisa nyawa orang lain. Jangan cuma ngomong soal bakar-membakar kalau belum siap liat daging sendiri ikut gosong.
Dava(Termenung, jemarinya gemetar sedikit. Menatap punggung Luthfi.) Bang Fi... Kalau kita gagal? Bukan cuma gagal dapet uang. Maksud gue... kalau besok kita semua berakhir?
Luthfi(Berbalik perlahan. Tatapannya menusuk Dava, lalu menyapu seluruh ruangan.) Kalau kita gagal, Dava... berarti kita memang gak layak ada di permainan ini. Udah nasib kita jadi bayangan yang hilang ditelan gelap. Tapi kalau kita menang... gak ada lagi yang berani matiin lampu di depan muka kita. Pilih.