7 Bayangan Kota

Versi Revisi · naskah diperpanjang
LuthfiPemimpin, dingin, strategis
DimasOtak kedua, realistis
ReyhanEmosional, loyal, cepat tersulut
AgungTenang, pengamat, jarang bicara
RestuSantai, humoris, tapi tajam
FahriAmbisius, haus kekuasaan
DavaPaling muda, masih ragu
Scene 1 Gudang Tua · Malam hari
(Cahaya lampu bohlam gantung berayun pelan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di wajah ketujuh orang itu. Debu beterbangan di sela cahaya redup. Tidak ada yang duduk dengan nyaman.)
Luthfi(Menatap lurus ke depan, suara rendah tapi beresonansi tajam) Kita gak bisa terus jadi alat. Udah waktunya kita naik. Bukan cuma minta jatah. Tapi tentuin arah angin.
Dimas(Menyilangkan tangan di dada, menatap Luthfi dengan dahi berkerut. Nada bicara skeptis.) Naik ke mana, Fi? Jangan ngomong kayak orang baru bangun tidur. Lu tau persis siapa yang kita lawan. Om Haris bukan preman pasar. Dia punya akses ke atas, ke petinggi. Kita cuma tujuh orang di gudang bocor. Gue realistis, bukan pengecut.
Reyhan(Memukul ringan tiang besi di sampingnya, rahang mengeras. Matanya memerah.) Gue capek, Mas! Capek nurut terus! Jari gue nyaris putus minggu lalu buat bersihin masalah mereka, pas uang turun… kita dapet recehan! Mereka pesta di hotel, kita kumpul di kandang tikus ini! Gak adil!
Restu(Tersenyum miring, mengeluarkan rokok dari balik telinga tapi tidak dinyalakan.) Tenang, Rey. Emosi itu bikin kita mati lebih cepat daripada peluru musuh. Atau lebih parah… bikin kita mati konyol. Duduk. Tarik napas. Pelan-pelan aja biar jantung lu gak meledak duluan sebelum perang dimulai.
Fahri(Berdiri menyender di sudut paling gelap. Suara memotong, dingin presisi.) Atau justru itu yang kita butuh. Chaos. Kekacauan. Dari situlah celah muncul. Kalau semua tenang dan teratur, kita gak akan pernah bisa masuk. Justru emosi Reyhan ini... ini bahan bakar. Kita perlu pembakaran.
(Suasana berubah tegang. Restu menghentikan gerakan jarinya di rokok. Dimas menatap Fahri dengan curiga.)
Agung(Dari sudut tergelap, duduk di atas peti kayu lapuk. Suara pelan, serak.) Setiap langkah ada harga. Jangan pura-pura gak tau. Harga buat naik... nyawa. Bisa nyawa kita, bisa nyawa orang lain. Jangan cuma ngomong soal bakar-membakar kalau belum siap liat daging sendiri ikut gosong.
Dava(Termenung, jemarinya gemetar sedikit. Menatap punggung Luthfi.) Bang Fi... Kalau kita gagal? Bukan cuma gagal dapet uang. Maksud gue... kalau besok kita semua berakhir?
Luthfi(Berbalik perlahan. Tatapannya menusuk Dava, lalu menyapu seluruh ruangan.) Kalau kita gagal, Dava... berarti kita memang gak layak ada di permainan ini. Udah nasib kita jadi bayangan yang hilang ditelan gelap. Tapi kalau kita menang... gak ada lagi yang berani matiin lampu di depan muka kita. Pilih.
Scene 2 Kecurigaan · luar gudang
(Di luar gudang, dekat tumpukan drum bekas. Suara jangkrik nyaring. Dimas menahan lengan Luthfi sebelum ia masuk kembali.)
Dimas(Menarik Luthfi menjauh dari pintu, suara rendah dan cepat. Ekspresi waspada.) Tahan dulu. Gue mau ngomong sesuatu. Dan ini serius.
Luthfi(Berhenti, menyulut rokok. Asap mengepul di antara wajah mereka.) Soal Fahri lagi?
DimasGue gak percaya Fahri. Dan bukan karena dia ambisius—kita semua juga ambisius. Tapi tadi di dalam... lo denger caranya ngomong? "Kita perlu pembakaran." Dia ngomong soal chaos kayak orang laper liat prasmanan. Itu bukan semangat perang. Itu napsu.
Luthfi(Menghembuskan napas panjang. Matanya menerawang.) Dia selalu kayak gitu. Dingin. Gue butuh otaknya, Mas.
Dimas(Menepuk bahu Luthfi, agak keras. Nada mendesak.) Bukan dingin, Fi. Ini tenang. Ada bedanya. Orang dingin masih bisa menggigil. Orang setenang dia... lagi ngitung. Dia udah tau hasil akhir yang dia mau, dan kayaknya hasil akhir itu gak termasuk kita bertujuh. Lo tau gue gak pernah ngomong asal nuduh. Tapi feeling gue kali ini gak enak.
Scene 3 Gerak Diam-Diam · belakang gudang
(Di belakang gudang, dekat saluran air kotor. Fahri melihat ke kanan-kiri, mengeluarkan ponsel satelit kecil.)
Fahri(Menempelkan ponsel ke telinga. Wajah setengah tersorot lampu remang dari ventilasi. Senyum tipis penuh kalkulasi.) Saya. Iya. Mereka bakal mulai besok. Targetnya gudang penyimpanan timur. Jam 2 pagi. Pastikan semua siap. Kasih mereka sambutan hangat... tapi jangan langsung habiskan. Biarin mereka berkeringat dulu di dalam perangkap.
(Jeda mendengarkan suara di seberang.)
Fahri(Terkekeh pelan, hampir tak terdengar.) Luthfi? Jangan sentuh dia. Dia punya gue. Biarin aja si pintar itu main catur sampe anak buahnya habis satu-satu. Begitu dia sendirian... dia gak ada pilihan selain ikut gue.
(Dari balik tumpukan ban bekas, Agung berdiri diam. Matanya terpejam, tapi telinganya mendengar jelas. Tubuhnya menyatu dengan bayangan. Ekspresi datar, hanya urat di lehernya yang sedikit menegang.)
Fahri(Mematikan telepon. Menatap layar ponsel yang mati. Ekspresi kosong, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. Senyum kemenangan yang dingin.)
(Agung mundur perlahan ke dalam gelap tanpa suara setapak pun.)
Scene 4 Pengkhianatan Terbongkar · gudang
(Di dalam gudang. Semua sudah berkumpul. Suasana seperti jerat yang mulai mengencang. Agung baru masuk lewat pintu belakang. Langkahnya tanpa suara membuat semua menoleh.)
Agung(Tidak duduk. Berjalan ke tengah lingkaran, berhenti tepat di bawah lampu. Matanya menyapu semua kecuali Fahri.) Ada yang bocorin rencana kita.
Reyhan(Langsung berdiri, kursinya jatuh. Ekspresi beringas.) SIAPA?! Siapa yang berani main belakang?! Omongan gue soal kematian tadi cuma pemanasan. Sekarang gue beneran pengen ada yang mati!
Restu(Meraih kerah baju Reyhan dan menariknya duduk paksa. Suara tenang tapi tajam.) Duduk. Jangan bikin suara. Kalo lu teriak, mereka di luar bisa denger. Biar Agung lanjutin.
(Agung menggeser pandangannya perlahan. Melewati wajah Dava yang pucat, Restu yang menahan Reyhan, Dimas yang menyilangkan tangan… dan berhenti tepat di wajah Fahri. Tatapan itu bertemu. Agung mengangguk satu kali, sangat pelan.)
Fahri(Menyadari tatapan itu. Tidak panik. Meluruskan duduk, menyandarkan punggung, senyum tipis penuh arti.) Akhirnya ketahuan juga. Lebih cepet dari perkiraan gue. Lu memang hantu yang paling berguna, Gung.
Dava(Wajahnya pucat pasi. Menatap Fahri seperti orang asing. Suara bergetar.) Lu serius, Bang...? Gue... gue anggap lu kakak. Kita dari bawah bareng-bareng.
Fahri(Berdiri, merapikan lipatan lengan kemeja dengan santai. Menatap Dava dengan sedikit iba yang dibuat-buat.) Gue cuma gak mau jadi bayangan selamanya, Va. Capek. Tiap kali orang ngomong "Tujuh Bayangan", nama gue ada di urutan keenam. Gue pengen nama gue disebut duluan, sendiri, tanpa embel-embel "bayangan".
Reyhan(Meronta dari pegangan Restu. Matanya berkaca-kaca.) Kita ini keluarga, Bro! Keluarga! Lo tega nusuk orang yang tidur di lantai yang sama sama lo?!
Fahri(Tawa dingin, menusuk. Menatap Reyhan dengan merendahkan.) Di dunia ini gak ada keluarga, Rey. Yang ada cuma yang naik... dan yang diinjek. Gue cuma milih gak jadi alas kaki kalian. Simpel.
Scene 5 Akhir Tegang · gudang, sirine mendekat
(Tiba-tiba terdengar lolongan sirine dari kejauhan. Suara itu mendekat dengan cepat. Suara ban mobil mengerem di atas kerikil halaman luar. Sorot lampu senter mulai menari-nari dari celah jendela yang tertutup seng.)
Restu(Mendengus, melepaskan pegangan pada Reyhan. Meraih rokok dan akhirnya menyalakannya. Asap mengepul.) Timing-nya bagus. Drama keluarga + polisi. Lengkap. Ini mah udah bukan kebetulan. Ini kado perpisahan dari temen kita.
Dimas(Menatap tajam ke arah Fahri. Wajah mengeras seperti batu. Tangannya mengepal.) Ini bukan kebetulan. Ini jebakan terencana. Lo telepon mereka tadi di belakang, kan, Fri? Gue bisa nyium bau got dari baju lo.
Luthfi(Melangkah maju, mendekati Fahri hingga jarak satu jengkal. Lampu berayun, bayangan bertabrakan. Suara berubah bisikan mematikan.) Lu udah siap dengan konsekuensinya, Fri? Di sini, di tempat kita pertama kali bersumpah? Di depan orang-orang yang lo sebut "bukan keluarga"?
Fahri(Membalas tatapan Luthfi tanpa berkedip. Menaikkan dagu sedikit, penuh ego.) Dari awal, gue gak pernah ragu, Fi. Justru ini yang gue mau. Lu lawan gue di sini... atau lu lari kayak tikus dari pintu belakang. Pilihan ada di tangan lo.
(Suasana senyap sejenak. Hanya suara sirine dan detak jantung mereka sendiri.)
Agung(Tiba-tiba melangkah mundur ke arah pintu darurat belakang. Menatap semuanya satu per satu. Suara pelan memecah keheningan.) Permainan berubah... tapi belum selesai. Jangan mati malam ini. Gue gak mau ngubur kalian satu-satu.
(Agung menarik tuas listrik utama di dekat pintu. SEGERA. Gelap total. Suara sirine kini tepat di depan pintu. Hanya suara langkah kaki berlarian dan Restu menggerutu pelan, "Gue benci gelap..." sebelum semua suara tenggelam oleh gebrakan di pintu depan.)